24 July 2008

BACALAH DENGAN NAMA TUHANMU

Aku mencintai suamiku karena sifatnya yang apa adanya dan aku begitu menyukai perasaan hangat yang muncul di hati ketika bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa perkawinan, harus aku akui bahwa mulai timbul rasa bosan dan lelah dengan kehidupan berumahtangga dengannya dan alasan-alasan mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Aku seorang wanita yang berjiwa sentimentil dan benar2 sensitif serta berperasaan halus. Aku merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan belaian. Tetapi semua itu tidak lagi aku peroleh. Suamiku kini jauh berbeda dari apa yang aku harapkan dulu. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam perkawinan kami telah memusnahkan semua harapan tentang kehidupan cinta yang ideal.

Suatu hari, aku beranikan diri untuk menyatakan keputusan untuk bercerai!!!
"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
"Aku lelah, kamu tidak pernah memberikan cinta yang aku inginkan". Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan aku semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang dapat aku harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat aku lakukan untuk mengubah fikiranmu?".

Aku menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan, "Aku ada satu pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya, aku akan mengubah fikiranku: Seandainya, aku menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kau memanjat gunung itu, kau akan mati. Apakah kau akan melakukannya untukku?"

Dia pun termenung dan akhirnya berkata, "Aku akan memberikan jawabannya besok pagi."
Hatiku langsung gundah mendengar reaksinya. Keesokan paginya, suamiku tiada di rumah, dan aku menemukan selembar kertas dengan coretan tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan...

"Sayang, aku tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan aku untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan hatiku. Aku lantas terus membacanya. "Sayang, kau biasa menggunakan komputer dan selalu menghadapi masalah kerusakan program di dalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor, Aku harus memberikan jari-jariku supaya dapat membantumu dan memperbaiki programnya."

"Kau selalu lupa membawa kunci rumah ketika keluar rumah, dan aku harus memberikan kakiku supaya dapat menendang pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang."

"Kamu suka jalan2 ke luar kota tetapi selalu tersesat di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, Aku harus menunggu di rumah agar dapat memberikan mataku membantumu untuk mengarahkan jalan untukmu."

"Kamu selalu kelelahan pada waktu teman baikmu datang setiap bulan, dan aku harus memberikan tanganku untuk memijit kakimu yang terkilir."

"Kamu seorang yg suka diam di rumah, dan aku selalu khawatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburkanmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk
kesehatan matamu, aku harus menjaga mataku agar ketika kita tua nanti, aku masih dapat menolong memotong kukumu dan mencabuti ubanmu."

"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menyusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna2 bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".

"Tetapi sayangku, aku tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Kerana, aku tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku…."

"Sayangku, aku tahu, di luar sana ada banyak orang yang mampu mencintaimu lebih dari aku mencintaimu…"

"Untuk itu sayangku, jika semua yang telah kuberikan dengan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Aku tidak dapat menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mataku jatuh di atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi aku tetap berusaha untuk membaca selanjutnya...

"Dan sekarang, sayangku…, kamu telah selesai membaca jawabanku. Jika kau berpuas hati dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, aku sekarang masih berdiri di luar pintu menunggu jawabanmu."

"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk mengambil barang-barangku, dan aku tidak akan menyusahkan hidupmu lagi. Percayalah, kebahagiaanku adalah apabila kau bahagia.".

Aku segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah sendu sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku.

Oh Tuhan…, kini baru aku tahu, tidak ada orang lain yang pernah mencintaiku lebih dari dia mencintaiku.

The Moral behind the story :

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasakan pasangan kita tidak dapat memberikan cinta dalam bentuk yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam bentuk lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Seringkali yang kita perlukan adalah memahami bentuk cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan bentuk tertentu…. “KARENA CINTA TIDAK HARUS SELALU BERBENTUK “BUNGA”.

Jangan mencintai seseorang seperti bunga, karena bunga mati kala musim berganti. Cintailah mereka seperti sungai, kerana sungai mengalir untuk selamanya.
Permulaan cinta adalah membiarkan orang yang kamu cintai menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kamu inginkan. Jika tidak, kamu hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kamu temukan di dalam dirinya.
Satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.
Jangan karena cinta, kita gugur dari perjuangan, dan jangan karena cinta juga, prinsip kita menjadi larut dan cair. Cinta tidak semestinya akan berakhir dengan perkawinan. Kesetiaan akan mengikat cinta, dan perkawinan akan menjadi indah jika cinta terus bersama.
Minat bukan berarti cinta, bangga bukan berarti cinta, kagum juga bukan berarti cinta, dan suka juga tidak sepadan dengan cinta, malah sayang pun bukan cinta. Tetapi, cinta itu adalah cinta…

KETAHUILAH !!!!
Bila telapak tanganmu berkeringat, hatimu dag dig dug, suaramu bagai tersangkut di tenggorokan, itu bukan cinta tetapi SUKA, bila tanganmu tidak bisa berhenti memegang dan menyentuhnya itu bukan cinta, tetapi BERAHI. Bila kamu menginginkannya karena tahu ia akan selalu berada disampingmu, itu bukan cinta, tetapi KESEPIAN. Bila kamu menerima pernyataan cintanya karena kamu tidak mau menyakiti hatinya, itu bukan cinta, tetapi KASIHAN....
Bila kamu bersedia memberikan semua yang kamu sukai demi dia, itu bukan cinta, tetapi KEMURAHAN HATI. Bila kamu bangga dan ingin selalu memamerkannya kepada semua orang, itu bukan cinta, tetapi KEMUJURAN BELAKA. Bila kamu mengatakan kepadanya bahwa ia adalah satu-satunya orang yang kamu pikirkan, itu bukan cinta, tetapi GOMBAL.....

TETAPI,.....
Kamu MENCINTAI ketika kamu MEMAAFKAN dan MENERIMA KESALAHAN DIA, karena itu adalah bagian dari kepribadiannya. Ketika kamu RELA MEMBERIKAN HATIMU, KEHIDUPANMU BAHKAN KEMATIANMU ...... KETIKA HATIMU TERCABIK bila ia bersedih dan BERBUNGA BILA ia bahagia. Ketika kamu MENANGIS untuk kepedihannya biarpun ia cukup tegar menghadapinya ....

Ketika kamu tertarik pada orang lain, tetapi kamu masih SETIA bersamanya. CINTA adalah PENGORBANAN, MENCINTAI berarti MEMBERI DIRI, CINTA adalah KEMATIAN ATAS EGOISME dan EGOSENTRISME. Kadang itu menyakitkan, tetapi itulah harga yang harus dibayar untuk sebuah CINTA.....
Semua kata-kata diatas adalah hanyalah tamsil belaka, sungguh manusia dinilai bukan karena ucapannya, melainkan apa yang diperbuat. Sungguh kata-kata tidak bermakna apabila tidak dikerjakan...

No comments:

Post a Comment